FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESETIMBANGAN DALAM INDUSTRI
NAMA : BUNGA
NURMALASARI
Kelas : XI MIA 2
Pemerintah kota Pontianak
Dinas pendidikan
Sekolah menengah atas negeri 2 pontianak
Jl. R. E. Martadinata, Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan
Barat 78244
Telepon: (0561) 775124
Kesetimbangan
kimia dalam Industri
Penerapan sistem kesetimbangan reaksi antara lain dilakukan
dalam industri kimia. Agar industri tersebut menguntungkan secara ekonomi,maka
diterapkan prinsip tertentu yaitu menghasilkan produk sebanyak - banyaknya
dengan waktu sesingkat mungkin. Oleh karena itu, harus dihindari terjadinya
reaksi bolak-balik, karena akan menyebabkan produk
kembali lagi menjadi bahan baku, sehingga pabrik kimia mengalami kerugian besar. Dengan demikian, faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran kesetimbangan harus diperhatikan, agar pergeseran kesetimbangan selalu menuju ke arah terbentuknya produk. Bagaimana contoh penerapan sistem kesetimbangan dalam industri kimia? Simaklah penjelasannya berikut baik-baik.
kembali lagi menjadi bahan baku, sehingga pabrik kimia mengalami kerugian besar. Dengan demikian, faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran kesetimbangan harus diperhatikan, agar pergeseran kesetimbangan selalu menuju ke arah terbentuknya produk. Bagaimana contoh penerapan sistem kesetimbangan dalam industri kimia? Simaklah penjelasannya berikut baik-baik.
1.
Pembuatan
amonia (NH3) menurut Proses Haber – Bosch
Proses pembuatan amonia ditemukan oleh Karl Bosch dan Fritz Haber dibuat melalui reaksi sebagai berikut.
N2(g) + 3H2(g)
Gas N2 pada reaksi di atas diperoleh dari udara, sedangkan gas H2 diperoleh dari hasil reaksi gas alam dan air. Untuk menghindari reaksi bolak-balik, kesetimbangan reaksi harus diusahakan bergeser ke arah terbentuknya NH3. Sesuai Asas Le Chatelier, maka harus dilakukan usaha - usaha berikut.
a. Memperbesar tekanan
Koefisien produk (NH3) lebih kecil daripada koefisien pereaksi (N2 dan H2). Agar kesetimbangan selalu bergeser ke arah terbentuknya produk (NH3), maka tekanan harus diperbesar. Tekanan yang biasa digunakan adalah ± 150-300 atm.
b. Menurunkan suhu
Reaksi ke kanan (ke arah terbentuknya produk) merupakan reaksi eksoterm. Supaya reaksi selalu bergeser ke kanan, suhu harus diturunkan. Karena suhu rendah menyebabkan reaksi berlangsung lambat, maka dipilihlah suhu optimum, yaitu suhu 400–500 C.Pemilihan suhu optimum bertujuan memaksimalkan laju reaksi dan mencegah reaksi bergeser ke kiri.
c. Menambahkan katalis
Katalis yang digunakan yaitu Fe3O4 yang mengandung K2O, CaO, MgO, Al2O3, dan SiO2. Penggunaan katalis dimaksudkan agar reaksi ke kanan berlangsung cepat.Walaupun sudah diatur dengan maksimal, ternyata hanya 15% amonia yang bisa diambil. Sementara itu, 85% sisa amonia kembali lagi kearah N2 dan H2 yang akan bereaksi lagi membentuk NH3. Secara sederhana, proses pembuatan amonia digambarkan dalam skema berikut.
Berikut ini skema sintesis amonia berdasarkan proses
Haber-Bosch.

2. Pembuatan Asam Sulfat (H2SO4) dengan proses kontak
Asam sulfat merupakan bahan kimia yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, sebagai bahan campuran dalam deterjen, cat, zat warna, fiber, plastik, industri logam, dan sebagainya. Dalam industri, pembuatan asam sulfat dikenal dengan proses kontak.Proses kontak menghasilkan asam sulfat mencapai kadar 99% dan biayanya lebih murah. Proses ini melalui beberapa tahap sebagai berikut.
a) Belerang dibakar dengan oksigen menghasilkan belerang dioksida.
Reaksi yang terjadi yaitu:
S(s) + O2(g) SO2(g)
b) Belerang dioksida (SO2) direaksikan dengan oksigen membentuk gas belerang trioksida Reaksi yang terjadi yaitu:
2 SO2(g) + O2(g)
Reaksi di atas berlangsung sangat lambat, sehingga harus diberi katalis. Katalis yang digunakan adalah vanadium pentoksida (V 2O5). Selain itu, reaksi harus terjadi pada suhu optimum (450 C).
c) Gas SO3 direaksikan dengan asam sulfat pekat menghasilkan asam
disulfat atau asam pirosulfat (oleum).
H2SO4(l) + SO3(g) H2S2O7(l)
d) Asam pirosulfat (H2S2O7) dilarutkan dalam air menghasilkan H2 SO4
Persamaan reaksi yang terjadi:
H2S2O7 (l) + H2O(l)
Tahapan yang paling menentukan pada proses pembuatan asam
sulfat adalah proses pengubahan SO2 menjadi SO3 . Reaksi pada proses
ini merupakan reaksi kesetimbangan, maka untuk memeperbanyak hasil harus
memperhatikan asas Le Chatelier.
1. Reaksi
tersebut menyangkut tiga aprtikel pereaksi ( 2 partikel SO2 dan 1 partikel gas O2) untuk
menghasilkan 2 partikel SO3 . Jadi, perlu dilakukan pada tekanan
tinggi.
2.
Reaksi kek kanan adalah reaksi
eksoterm ( H = - 196 kJ) berarti
harus dilakukan pada suhu rendah. MAsalahnya pada suhu rendah reaksinya menjadi
lambat. Seperti pada pembuatan ammonia, permasalahan ini dapat diatasi dengan
penambahan katalis V2O5 .
Pemilihaan kondisi optimum untuk pembentukan
SO3 adalah sebagai berikut :
Faktor
|
Reaksi :
2SO3(g) + O2(g)
|
Kondisi Optimum
|
Suhu
|
Reaksi bersifat eksotermik. Suhu rendah akan menggeser kesetimbangan
ke kanan. Akan tetapi, laju reaksi menjadi lambat. Pemilihan suhu juga harus
juga harus memperhitungan faktor antara lain korosi pada suhu tinggi.
|
400⁰ C - 450⁰C
|
Tekanan
|
Total mol pereaksi lebih besar dibandingkan
total mol produk reaksi. Penambahan tekanan akan menggeser kesetimbangan ke
kanan. Pada tekanan sedikit di atas 1 atm, reaksi sudah menghasilkan ˜97% SO3.
|
2-3 atm
|
Katalis
|
Katalis tidak menggeser kesetimbangan ke
kanan, tetapi mempercepat laju reaksi secara keseluruhan
|
V2O5
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar